0


@page { margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }

Hikmah Peristiwa Hijrah 7 Muharram 1437 H
Tahun baru kembali menyapa kita. Satu tahun telah berlalu. Satu tahun umur kita bertambah. Satu tahun juga jatah hidup kita berkurang. Waktu laksana air yang mengalir ke hilir yang takkan pernah kembali ke hulu. Kadang ia membangkitkan semangat, kadang membuat orang terlena dan tak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya.
Pergantian tahun seharusnya mengingatkan kita agar selalu menghargai waktu dan mengisinya dengan beragam aktivitas bermanfaat. Setiap kesempatan yang ditawarkan sang waktu, kita gunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup di dunia sebagai bekal kehidupan di akherat. Jika tidak, sang waktu akan menarik kesempatan itu dan tidak akan datang untuk kedua kalinya. Sebuah peribahasa mengatakan, “ Waktu laksana pedang, jika tidak mampu memanfaatkan waktu, maka ia akan memenggalmu.”

Pengertian Hijrah

Hijrah mengandung beberapa makna. Diantaranya, pertama, hijrah secara maknawi. Yaitu, meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam hal ini Allah berfirman, “ Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,” ( QS. Al-Mudatstsir : 5). Dalam sebuah hadits, Nabi menyebutkan, orang yang hijrah itu adalah orang yang meninggalkan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. ( HR. Bukhari). Dalam makna inilah hijrah bisa dilakukan siapa saja.

Kedua, hijrah makani atau berpindah tempat. Makna ini berimplikasi putusnya hubungan secara politis. Hijrah seperti ini dapat dilakukan secara individual maupun massal. Ada beberapa hal yang melatari hijrah ini.
Diantaranya,
pertama karena tidak ada kebebasan dalam melaksanakan ajaran agama. Dalam keadaan seperti ini, seseorang diperbolehkan berhijrah untuk mendapatkan kenyamanan beribadah.

Kedua, karena dirinya dibutuhkan tempat yang baru itu. Sedangkan di tempat tinggalnya semula, sudah banyak ulama atau dai. Dalam keadaan seperti ini, hijrah sangat dianjurkan. Bahkan boleh jadi wajib.

Ketiga, karena adanya tekanan politis dari penguasa zalim yang dilakukan secara massal. Hal ini pernah dilakukan oleh Nabi Musa ketika ia meninggalkan Mesir menuju Madyan. Sebagaian sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pun melakukan hijrah karena alasan ini. Namun, tentu saja tak semua dari mereka hijrah karena tekanan politis. Umar bin Khathhthab yang hijrah betul-betul karena perintah. Bahkan, sebelum hijrah ia sempat menantang duel kafir Quraisy untuk melawannya.
Jadi, hakekat hijrah sebenarnya bukan semata untuk berpindah ke tempat yang aman. Hijrah merupakan usaha perubahan kualitas hidup, baik yang bersifat mental, maupun moral sosial. Perubahan yang dimaksud bukan hanya secara tempat, tapi juga keadaan. Tempat bisa jadi tidak berpindah, tapi kondisi yang diubah. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan para sahabatnya melakukan hijrah bukan karena takut terhadap kezaliman kafir Quraisy Makkah sehingga dianggap sebagai pengungsian atau pengusiran. Hijrah merupakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala di samping strategi besar yang dilakukan seorang pemimpin untuk membangun kekuatan baru yang tangguh dalam membangun masyarakat yang memiliki kemuliaan dan keluhuran mental, spiritual, kultural, maupun ekonomi. Ia juga merupakan strategi kebangkitan Islam.

Hikmah Peristiwa Hijrah
Dalam menapaktilasi hijrah Rasul terdapat banyak hikmah besar dan pelajaran yang sangat berharga. Kalau kita mau memetik teladan, sesungguhnya kesuksesan Rasul dan generasi Islam awal itu dapat mengilhami kesuksesan kita sekarang ini. Diantara hikmah-hikmah besar itu adalah :
Pertama, perencanaan yang matang. Hijrah adalah sebuah perjalanan yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan para sahabatnya guna mendapatkan wilayah yang kondusif bagi penegakkan nilai-nilai Islam. Untuk merealisasikan cita-cita mulia itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menyusun perencanaan matang tentang strategi perjalanan hijrah agar kendala yang dihadapi sekecil mungkin.
Perencanaan matang itu tampak jelas ketika Ali bin Abi Thalib menjalankan tugas menggantikan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam di tempat tidurnya guna mengecoh kaum kuffar Quraisy yang berniat membunuh Rasul terakhir ini. Bahkan, hali ini juga terlihat pada strategi Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam saat berhijrah, beliau tidak berangkat langsung ke Madinah. Tapi, ia bersama Abu Bakar Shiddiq Radhiallahu ‘anhu singgah di gua Tsur selama tiga hari guna menyulitkan musyrik Quraisy yang sibuk mencari mereka.

Kedua, kerjasama yang baik. Salah satu indikator kesuksesan hijrah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah, adanya jalinan kerjasama yang baik antara para sahabatnya. Tak ada rasa iri dan dengki di antara para sahabat. Dengan penuh tanggungjwab mereka menjalankan tugas dakwahnya masing-masing sesuai dengan bidang dan kemampuan. Ali in Abi Thalib misalnya, ditugaskan untuk tidur di tempat beliau, walupun dengan penuh resiko dijalankannya tugas tersebut dengan sangat baik. Demikian pula dengan Umar bin Khaththab yang ditugaskan menggalang opini dengan berkata di hadapan Musyrikin Quraisy, “ Siapa yang ingin anaknya menjadi yatim dan istrinya menjadi janda, cegahlah aku. Karena aku akan segera menyusul Nabi ke Madinah.” Abu Bakar juga menjalankan tugas berat untuk mendampingi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dalam perjalanan hijrah. Demikian pula dengan sahabat-sahabat Nabi yang lain. Tak ada kesuksesan yang terwujud kalau kondisi umat carut marut dan bercerai berai. Sebaliknya, kebersamaan umat dalam kebajikan laksana sebuah bangunan kokoh yang tidak dapat dihancurkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” ( QS. As-Shaf:4)

Ketiga, pengorbanan besar. Hijrah Nabi dan para sahabatnya membutuhkan pengorbanan sangat besar. Bukan hanya harta, tapi juga jiwa, tenaga, pikiran,
waktu, dan perasaan. Dengan perasaan berat Nabi dan para sahabatnya harus ikhlas meninggalkan kampung halamannya. Ali bin Abi Thalib dan Asma binti Abu Bakar nyaris tewas menanggung derita penyiksaaan yang dilakukan orang-orang kafir terhadap diri mereka karena menjaga rahasia tempat persembunyian Nabi dan Abu Bakar di gua Tsur. Dengan pegorbanan yang besar itulah perjuangan insyaAllah akan mencapai hasil yang maksimal. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjamin orang-orang yang berkorban dengan penuh keikhlasan untuk terhindar dari azab neraka yang pedih, dan memasukkan mereka kedalam surga. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.” (QS. As-Shaf : 10-11)

Keempat, kesungguhan dan keikhlasan. Tanpa kesungguhan dan keikhlasan, tak mungkin hijrah itu dapat terlaksana dengan baik. Itu sebabnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “ Sesungguhnya, amal itu harus dengan niat. Perbuatan setiap orang itu tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang berhijrah semata karena taat pada Allah dan Rasul-Nya. Maka hijrah itu diterima Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang berhijrah karena mengejar keuntungan duniawi atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, niscaya hijrahnya terhenti pada apa yang ia niatkan itu.” ( HR. Bukhari-Muslim)
Kelima, nilai ukhuwah (persaudaraan) sejati. Pelajaran berharga dari hijrah adalah persaudaraan sejati antara Muhajirin dan Anshar. Hal itu dapat dilihat saat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam dan para sahabatnya tiba di Madinah. Mereka disambut dengan suka cita oleh orang-orang Madinah.Bahkan, Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wasallam sendiri sampai bingung bukan karena ketiadaan tempat, tapi bingung karena hampir semua orang Madinah menginginkan agar Rasul Shalallahu ‘alaihi Wasallam menetap di rumah mereka. Akhirnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam membiarkan unta yang ditungganginya itu berhenti dan disitulah ia akan menetap. Ternyata unta Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam berhenti di depan rumah sahabat Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyyallahu anhu.
Keenam, Kebanggaan sebagai Muslim. Peristiwa hijrah Rasul yang oleh sejarah dicatat sebagai pijak keberhasilan generasi Islam pertama dalam membangun pondasi dakwah, menjadi kebanggaan umat Islam hingga saat ini. Kebanggaan itu memicu semangat untuk tetap eksis dan konsisten memperjuangkan nilai-nilai Islam. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Imran:139). Kita berharap semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kekuatan iman dan takwa kepada kita. Sehingga mampu memetik berbagai pelajaran berharga dari peristiwa bersejarah ini. Aamiin. Wallahu’alam
referensi: http://buletin-hidayatullah.blogspot.co.id/2011/11/hikmah-dibalik-hijrah-oleh-abdullah.html
Oleh : Abdullah Ridho

Dikirim pada 20 Oktober 2015 di kisah dan hikmah



1. Abi selalu menggandeng tangan istrinya saat berjalan, jikapun 1 tangan jg tak ϐίșά menggandeng krn suatu hal, Abi sll meminta istrinya yg menggandeng tangannya. Alasannya dia bertanggung jawab atas jalan istrinya supaya selalu aman

2. Abi selalu mencium kening istrinya disaat2 tertentu, sebelum & sepulang bekerja, sesudah sholat, sebelum ϑάπ sesudah tidur. Alasannya sebagai tanda bahwa dialah pelindung & penenang istrinya agar istrinya selalu merasa nyaman.

3. Abi tidak pernah berteriak pd istrinya, alasannya suara ƔªйǤ keras ϑӛЯЇ suami utk istrinya adalah cambuk yang menyakitkan
4. Abi tdk prnah mencela ϑάπ memaki istrinya sebesar apapun kesalahan ƔªйǤ diperbuat alasannya makian ϑάπ celaan bukan kata yang bijak mengajarkan kebenaran

5. Abi selalu memeluk ϑάπ membelai istrinya jika istrinya berbuat salah, alasannya mulut ϑάπ perbuatan istri adalah tanggung jawab suami, bila istri sampai τ̅iϑɑƙ terkontrol itu adalah salah suami, sebab itu dia selalu memeluk ϑάπ membelai istrinya sambil berkata "maafkan Abi, lain kali jangan kamu ulangi kesalahan itu lagi, jadilah istri yang soleha ϑάπ baik, salahkan Abi saja"

6. Abi selalu bangun sebelum ϑάπ berangkat tidur setelah istrinya, alasannya kewajibannyalah­ utk melindungi hidup istrinya dimulai saat bangun tidur ϑάπ sampai αƙαn tidur, itulah janji suami pd istrinya.

Fakta ɪ̇πɪ̇ kayaknya patut dibaca para suami bukan hanya yang muslim tapi untuk semua suku, ras ∂åπ agama, karena ϐίșά membuka hati suami2, dijamin suami jά̲̣̥ϑï terhormat ϑάπ istri αƙαn menjadi lebih menghargai ϑάπ sayang sama suami. Pepatah mengatakan hati wanita αƙαn luluh jika disiram dengan air dingin daripada menyiramnya dengan minyak panas, krn pada dasarnya mereka butuh perhatian ϑάπ kasih sayang. Semoga keluarga selalu bahagia ϑάπ rukun sampe tua Aamiin Allahumma Aamiin


Dikirim pada 12 Mei 2013 di kisah dan hikmah


Oleh-oleh dari sholat idhul adha 1433 H.( copi dari blog ustadzah ida nur Laila)http://ida-nurlaila.blogspot.com/
Beberapa remaja duduk berdesakan di shaf belakangku. Mendengarnya aku menoleh dan mempersilahkan jika ada yang bersedia mengisi tikar kami. Aku hanya duduk berderet dengan ibuku dan putri sulungku. Sementara tikar kami muat berempat.
" Ayo, silahkan, salah satu maju..."
Seorang remaja maju dan malu-malu duduk di sampingku. Aku tersenyum semanis mungkin untuk menguatkan hatinya.
Dia duduk bersimpuh dan memangku bawahan mukenanya. Juga sebuah sajadah warna merah bergambar masjid yang sudah agak pudar warnanya.
" Dari mana dik ?"
" Dari Balong Kidul bu..." jawabnya lirih.
" Ke sini jalan kaki ?"
" Iya..."
" Pak dukuhnya Balong Kidul siapa ya...?"
Ia tertawa tanpa suara dan menutup mulutnya, sambil menggelengkan kepalanya.
Hmm anak remaja sekarang, bahkan tidak tahu siapa nama pengurus kampungnya.
" Pe eR, ya, besok tanyakan, siapa nama dukuhnya..." Aku bercanda. Namun ia mengangguk.
Sekilas aku meliriknya sambil menggemakan takbir.
Ia seperti remaja kebanyakan. Berangkat sholat Ied memakai atasan mukena. Aku tidak bisa melihat warna bajunya. Namun mukena yang dikenakannya cukup lusuh. Bahkan bagian kepalanya sudah menampakkan titik-titik hitam yang tidak sedikit, tanda jamuran.
Mukena itu juga sepertinya tidak sempat dicucinya, beberapa noda terlihat membayang.
" Kamu kelas berapa ? "
" Kelas lima lima bu "
" SD ...?" aku ragu-ragu lantaran melihat tubuhnya yang langsing menjulang, mungkin hampir setinggi kupingku. Ia hanya mengangguk, dan selalu dengan senyum malu.
" Umurmu berapa ?"
" Dua belas tahun bu..." aku mengangguk-angguk faham.
" Eh kamu punya adik apa tidak...?"
" Tidak punya bu. Adanya kakak...mas dan mbakku ada tujuh..."
" Hah...tujuh...banyak banget...!" kataku kaget.
Ia tersenyum malu.
" Bapak sama ibumu kerja apa ?"
" Mencetak batu-bata..."
" Ibumu juga ?" ia mengangguk
Lalu aku bertanya tentang sekolahnya, ia setiap hari naik sepeda ke sekolahnya yang berjarak sekitar dua km.
" Kamu ingin jadi apa...? Apa cita-citamu...?"
Ia menggeleng malu, " Nggak tahu bu..."
" Kamu harus pikirkan ya, mau jadi apa. Kamu berusaha sekolah yang tinggi. Kalau kamu berusaha, pasti kamu bisa” Ia mengangguk. Semoga Ia faham.
Imam memulai sholat dan kamipun berbaris rapi mengikuti Imam.
Usai sholat, sambil melipat mukena, aku menanyainya lagi.
" Kamu rajin sholat ?"
Ia menggeleng malu-malu.
“ Kadang-kadang bolong..."
" Kamu ikut TPA ? Di masjid ?"
Ia mengangguk, dan menyebutkan hari-hari apa saja ia berangkat TPA, namun ia belum bisa membaca Al-Qur`an.
Aku menatap matanya sungguh-sungguh.
" Maukah kamu berjanji padaku...? Mau...?"
Ia memandangku dengan heran.
" Maukah kamu berjanji untuk belajar membaca Al-Qur`an dan rajin sholat lima waktu, Shubuh, Dhuhur, `Ashar, Maghrib, Isya` ,gak pakai bolong....?" Ia mengangguk ragu.
Aku mengulurkan tangan.
" Ayo salaman sama aku. Kamu janji untuk rajin sholat lima waktu, sejak hari ini sampai selamanya."
Ia menjabat tanganku dan mengangguk mantap.
" Ini mukena untukkmu. Kamu pakai untuk sholat..!"
Aku menyerahkan mukenaku yang sudah kulipat.
Ia nampak terkejut memandang mukena halus berbordir coklat muda dan krem. Menurutku mukenaku memang bagus, kubeli saat aku berkesempatan mengunjungi Malaysia pada 1 Mei 2012. Namun sedikitpun aku tidak sayang dengan mukena bersejarah yang menandai kepergianku saat merayakan hari buruh bersama para TKW di Kedutaan Malaysia. Toh setiap kali ada saja orang memberiku mukena. Dan seringkali lebih bagus dari yang kubeli sendiri.
Kembali pada remaja di sebelahku yang masih terbelalak. Kuletakkan mukena itu di pangkuannya.
" Untukmu, dan janjimu untuk selalu sholat lima waktu, sejak saat ini..."
" Terimakasih..." katanya lirih. Aku melihat matanya berkaca-kaca.
" Siapa namamu ?"
" Giyem..."
" Nama ibumu ?"
" Tukinem..."
" Sampaikan salamku untuk ibu Tukinem, ya..."
" Ibu namanya siapa ?"
Itulah pertanyaan pertama yang dilontarkannya.
Aku menjawab pertanyaannya sambil tersenyum.
" Sesekali mainlah ke rumahku, di belakang masjid itu..." aku menunjuk arah rumahku.
Ia mengangguk, sambil tersenyum juga, kali ini tidak lagi malu-malu.
Aku menerawang ke masa lalu. Saat-saat aku masih duduk di bangku SD dan SMP. Betapa aku seringkali malu saat pergi sholat Ied dengan mukenaku yang lusuh. Biasanya beberapa hari sebelumnya aku mencuci dan menggosoknya keras-keras dengan sikat, agar warna kuningnya sedikit pudar dan kembali ke warna asal yang seharusnya putih.
Lalu saat sholat di lapangan, aku melihat aneka mukena yang yang indah dan berandai-andai jika aku mengenakannya. Namun itu tak pernah terjadi. Hingga kuliah, aku selalu membeli mukena murah. Mukena bagus pertamaku adalah pemberian calon suamiku saat akad nikah.
Aku berharap, Giyem akan selalu mengingat momen ini, hari raya Idhul adha 1433 H.
Mengingat janjinya padaku dan pada Allah untuk sholat lima waktu. Dan segera merumuskan cita-citanya.
Sekalipun orang tuanya hanya pembuat batu-bata, aku berharap, ia bisa memperoleh pendidikan yang lebih baik. Pendidikan yang akan memutus rantai kemiskinan.
Saat bubaran sholat, barulah aku berkaca-kaca, memandang Giyem yang menghilang di kerumunan manusia, sambil mendekap mukena barunya. Sementara itu, atasan mukena lusuh yang tetap dipakainya melambai dan kulihat beberapa lubang di bagian belakangnya.
Maka kubiarkan keharuanku menjadi tetes air, yang hanya aku yang memahami seperti apa rasa hatiku.
( Seandainya kita selalu bisa lakukan hal yang menyentuh pada anak remaja, yang sangat butuh cinta dan perhatian, semoga bisa menjadi momen pencerahan bagi mereka. Dan kita akan melihat remaja-remaja yang bersinar dengan prestasi dan cita-cita yang tinggi.)
Kutuliskan untuk Giyem yang baru kukenal pagi tadi.

Dikirim pada 03 Februari 2013 di kisah dan hikmah




Tak perlu menggembar-gemborkan sudah berapa banyak kita menyumbang orang karena mungkin belum sepadan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bai Fang Li. Kebanyakan dari kita menyumbang kalau sudah kelebihan uang. Jika hidup pas-pasan keinginan menyumbang hampir tak ada.
Bai Fang Li berbeda. Ia menjalani hidup sebagai tukang becak. Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China.
Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan ia dapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian? Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.
Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari para ibu yang tertolong jasanya.
Namun yang membuat Bai Fang Li heran, si anak memungut makanan di tempat sampah untuk makannya. Padahal ia bisa membeli makanan layak untuk mengisi perutnya. Ketika ia tanya, ternyata si anak tak mau mengganggu uang hasil jerih payahnya itu untuk membeli makan. Ia gunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk di mana mereka tinggal. Mereka hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah di mana.
Bai Fang Li yang berkesempatan mengantar anak itu ke tempat tinggalnya tersentuh. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh. Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.
Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya. Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000.
Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.
Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung. Meski hidup dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi), ia punya kepedulian yang tinggi yang tak terperikan.
sumber : kaskus.us

bismillah...ayo muali diri sendiri untuk lebih peduli dengan orang lain..terutama dalam menyantuni anak yatim dan orang miskin....jadikanlah hamba yang mampu untuk berbuat banyak dan manfaat untuk sesama.aamiin

Dikirim pada 05 Juni 2012 di kisah dan hikmah
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

friendly, ...yuk semangat,sholihah, cerdas, n ikhlas. Muslimah itu anugerah terindah dunia. ia lembut tp tidak lemah---mpesona tp bersahaja...ia tahu bgmana menjaga izzah dirinya..ia mengerti bgmna mnjaga akhlaq dan kemuliaannya..itulah yg membuatnya istimewa dibanding wnta lainnya. ilmunya telah mengangkatnya menjadi permata terindah di dunia.. wa akherat...tetap semangat More About me

BlogRoll
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 844.171 kali


connect with ABATASA