0


Warung sate di sebelah selatan alun-alun kota ini tak pernah sepi dari pembeli. Selalu ramai sejak buka sore hari hingga tengah malam menjelang.
“Kamu masih ingat kalau kita pernah ke sini sebelumnya?” tanya Ayah pada si Bungsu yang duduk di sebelah kirinya, menunggu sate yang mereka pesan selesai dibakar.
“Ingat, Yah. Waktu bulan Ramadhan kemarin kan?” jawab si Bungsu bersemangat. Hidungnya kembang kempis mencium bau harum sate yang sedang dibakar. Tarian cacing yang sedang kelaparan terpancar dari raut wajah tak sabarnya.
“Betul!” Ayah menahan senyumnya melihat ekspresi si Bungsu yang memang hobi makan.
Seorang pelayan datang membawa dua teh botol di atas nampan. Ia sempat melirik ke arah si Bungsu yang tak terlalu memperhatikan kehadirannya. Tak ingin merusak suasana, sang pelayan segera mengurungkan niatnya untuk menggoda si Bungsu yang terlihat lucu dan menggemaskan. Sebagai gantinya, ia mengangguk pada Ayah sambil mempersilahkan untuk menikmati minuman yang ia suguhkan.
“Dibanding bulan Ramadhan kemarin, perbedaan apa yang kamu rasakan sejak kita datang tadi hingga sekarang kita duduk di sini?” Ayah kembali bertanya.
“Penjaja makanannya tak sebanyak waktu bulan Ramadhan, Yah!” jawab sang bocah spontan.
Kali ini Ayah tak bisa menahan senyumnya mendengar jawaban polos si Bungsu. Ayah bisa menduga apa yang ada dalam benak si Bungsu, tak ada yang lebih menarik perhatian bocah bertubuh tambun itu selain makanan.
“Bukan itu yang Ayah maksudkan”
“Tapi benar kan Yah? Waktu bulan Ramadhan, puluhan bahkan mungkin ratusan penjual makanan dan minuman berjajar di sekeliling alun-alun” protes si Bungsu agak berlebihan, mengatakan jumlah penjaja makanan yang mangkal di sekeliling alun-alun mencapai ratusan.
“Iya, benar. Tapi selain penjual makanan yang jauh berkurang, apa kamu tadi memperhatikan kalau jumlah jamaah sholat Maghrib di masjid juga jauh berkurang?”
Sang bocah diam, tak menjawab. Ia tak menduga kalau itu yang Ayah maksudkan.
“Jumlah orang yang datang ke alun-alun ini masih sama banyak seperti dulu, atau bahkan mungkin semakin bertambah. Tapi bedanya, saat bulan Ramadhan alun-alun ini menjadi sepi beberapa saat setelah adzan Maghrib berkumandang. Gantinya, masjid Baiturrohiim yang berada di sisi barat alun-alun menjadi penuh dengan jamaah yang akan sholat Maghrib berjamaah. Tapi kalau tadi kamu memperhatikan, yang terjadi justru sebaliknya. Meski kita datang agak terlambat, kita masih mendapatkan shaft ke tiga karena memang tak ada shaft lagi dibelakang kita. Sementara, alun-alun ini tetap ramai. Mereka yang berolah raga atau sekedar duduk-duduk sambil ngobrol masih tetap pada aktivitasnya, posisinya masing-masing, tak bergeming. Tak mungkin suara muadzin tak sampai ke telinga mereka. Sayangnya, di luar Ramadhan, bagi mereka mungkin adzan Maghrib tak menarik lagi. Tak lagi dinanti. Astaghfirullah!”
Si Bungsu mengedarkan pandangannya ke alun-alun di depannya. Benar kata Ayah, beberapa remaja masih asyik berlarian mengejar bola di alun-alun sebelah utara. Meski beberapa jamaah sholat maghrib sudah bubar, mereka tetap asyik bermain bola diterangi lampu penerangan jalan. Juga mereka yang sedang bermain tennis di sudut barat daya alun-alun. Dan di tengah lapangan, di bawah pohon beringin, belasan pemuda duduk sambiil bercanda. Di sebelah tenggara, tak jauh dari warung sate ini, beberapa orang duduk berkelompok di atas tikar, menikmati aneka jajanan sambil bercanda dengan anggota keluarganya.
Pemandangan seperti ini sudah ada sejak ia dan Ayah datang beberapa menit sebelum adzan Maghrib berkumandang dan masih terlihat sama ketika mereka selesai sholat berjamaah di masjid Baiturrohim yang ada di sebelah barat alun-alun. Semua pemandangan ini memancing si Bungsu untuk bertanya, apakah mereka sudah sholat? Kapan dan dimana? Ia yakin, dari semua yang ia lihat, ada diantaranya adalah seorang muslim. Yang ia tak yakin, apakah mereka sudah sholat. Dimana? Yang ia lihat, masjid sebesar itu hanya di isi tiga shaft jamaah, itupun dilihat dari pakaiannya mereka adalah warga yang tinggal di sekitar masjid. Dan sebagian besar adalah jamaah yang sudah lanjut usia.
“Apa mereka tadi sholat Maghrib, Yah?” karena penasaran, sang bocah akhirnya bertanya.
“Entahlah. Mereka sudah sholat apa belum, Ayah tidak tahu. Mudah-mudahan, apapun yang mereka lakukan sekarang, itu karena mereka sudah sholat. Kita bisa saja tadi tak melihat mereka di masjid, karena mereka sholat di tempat lain. Atau mungkin juga sebagian belum sholat dengan berbagai alasan. Tapi sangat disayangkan kalau mereka belum sholat, menunda-nunda waktu untuk sholat, padahal pahala terbesar adalah ketika sholat dilaksanakan di awal waktu, secara berjamaah di masjid. Dan yang kita temukan, masjid Baiturrohim yang begitu megah ternyata sepi. Kebalikannya, alun-alun ini masih saja dan bahkan semakin ramai.“ Ayah menjawab lirih. Matanya menatap kubah masjid Baiturrohiim yang terlihat lebih megah dibalut sinar kuning dari lampu yang memancar di bawahnya.
“Apa mereka yang di sana tadi juga sholat Maghrib, Yah?” tanya si Bungsu sambil menunjuk ke arah televisi yang diletakan di tempat yang strategis hingga semua pengunjung warung sate ini bisa melihat dengan jelas, di manapun mereka duduk.
“Apa ribuan penonton dalam stadion itu tadi sholat Maghrib, Yah?” sekali lagi si Bungsu bertanya.
Tampak di layar televisi ribuan penonton memadati stadion untuk melihat pertandingan sepak bola yang baru akan dimulai paling cepat setengah jam lagi. Tapi seperti yang disampaikan oleh reporter yang tak kalah semangat menyampaikan laporannya bahwa stadion ini telah dipenuhi ribuan penonton sejak pukul lima sore bahkan ada beberapa rombongan yang sudah datang sejak beberapa jam sebelumnya. Melihat kenyataan ini, tak heran bila si Bungsu kemudian bertanya, apakah mereka yang sudah berebut rela meninggalkan tempat duduknya untuk sholat Maghrib dulu. Seberapa banyak diantara ribuan penonton itu yang ingat akan sholat, kewajiban bagi setiap diri seorang muslim?
Ayah teringat jawaban seorang rekan kerjanya ketika satu ketika Ayah bertanya, apakah di stadion itu tersedia mushola yang memadai untuk jumlah pengunjung yang mencapai ribuan hingga mereka bisa melaksanakan sholat dengan nyaman? Ayah bertanya karena belum pernah sekalipun datang ke sana. Tak terbayang bagaimana panjangnya antrian, dan penuhnya mushola atau ruangan apapun yang difungsikan untuk itu.
Tapi apa yang dibayangkan Ayah ternyata jauh dari kenyataan. Meski tidak bisa dikatakan mewakili seluruh pengunjung stadion, tapi jawaban rekan kerja Ayah memberikan sedikit gambaran bagaimana sebenarnya keadaan di sana.
“Kami jauh-jauh datang ke stadion untuk menonton bola, memberi dukungan kepada tim kesebelasan kebanggan kita, kenapa kamu malah bertanya tentang mushola?” tanyanya tak mengerti apa yang sedang Ayah pikirkan.
“Kalau pertandingan baru dimulai pukul tujuh, sementara kamu datang sejak pukul lima, itu artinya saat maghrib kamu sudah ada di sana. Bagaimana dengan sholatmu?” Ayah memperjelas pertanyaannya.
“Sholat Maghrib?” Ia berhenti sejenak, terlihat ragu untuk menjawab. “Kan bisa dijamak, nanti sepulang dari sana. Kalau tidak kecapekan” jawabnya kemudian. Terlihat enteng, tanpa beban bahkan sambil tertawa.
“Astaghfirullah!” ucap Ayah lirih. Perih.
Alangkah menyedihkan jika ternyata jawaban rekan kerjanya adalah juga jawaban sebagian besar penonton yang hadir di stadion. Untuk memberikan dukungan, menyaksikan pertandingan tim kesebelasan yang mereka banggakan, mereka rela bahkan memaksa datang berjam-jam sebelum pertandingan dimulai. Meninggalkan pekerjaan, melalaikan kewajiban, menggunakan berbagai cara dan alasan agar bisa datang dan mendapat tempat duduk yang nyaman.
Meski pertandingan baru akan dimulai selepas Isya, sejak Ashar mereka sudah tiba, dan duduk ‘manis’ menunggu pertandingan dimulai, pura-pura tak mendengar suara adzan Maghrib yang berkumandang. Tak ada yang lebih menarik selain pertandingan segera dimulai. Sementara adzan Maghrib bukanlah yang dinanti. Adzan Maghrib hanya menarik di bulan Ramadhan, karena itu menandakan sudah boleh berbuka. Tapi diluar Ramadhan, adzan Maghrib tak lagi dinanti. Untuk apa? Berbuka? Siapa yang berpuasa? Astaghfirulloh! Lupakah bahwa ketika adzan sudah berkumandang, maka wajiblah bagi kita segera mendirikan sholat. Dan untuk menjamak sholat jelas ada syarat dan ketentuannya. Menonton pertandingan sepak bola jelas bukan alasan yang membolehkan sholat dijamak.
Dan apakah karena tidak sedang berpuasa lalu adzan Maghrib menjadi tak menarik lagi, tak lagi dinanti?

diambil dari : http://www.fimadani.com..... by abi sabila, tangerang

Dikirim pada 10 Desember 2011 di Inspirasi


Jika Allah mencintai hambaNya maka Dia akan mengujinya
Jika ia sabar maka Allah akan memilihnya
Jika ridho maka Allah akan mensucikannya
Wahai saudaraku, surga sudah menanti
Jika kita merasakan betapa beratnya kaki menapak & letihnya bersabar, itulah indikasi Mengapa perjuangan itu PAHIT, Karena surga itu indah...
Jangan meminta Allah meringankan bebanmu...
Tp mintalah Allah menguatkan pundakmu untuk memikul ujian kesabaran dan perjuanganmu dengan KEIKHLASAN...

bismillah..

Dikirim pada 17 Oktober 2011 di Inspirasi

Ya robb, aku sedang memikirkan posisiku kelak di akhirat , mungkinkah aku berdampingan dengan penghulu para wanita ..khodijah al kubro yang berjuang dengan harta dan jiwanya?
atau dengan hafshah binti Abu Bakar yang di bela oleh Alloh saat akan dicerai krn showwamah dan qowwamahnya? atau dengan Aisyah yang telah hafal 3500 an hadits, sedang aku... ehm 200 jg belum
atau dengan ummu sulaim yg shobiroh atau dengan asma yang mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dr jihad atau dengan siapa ya , ya Alloh ,
tlg beri kekuatan tuk mengejar amalaih mereka..sehingga laik bertemu mereka bahkan bisa berbincang dgn mereka di taman firdausMu. ...
bismillah...itulah kenang2an sms ustadzah yoyoh yusroh kepada seorang akhwat.

Dikirim pada 13 September 2011 di Inspirasi


(Bagian ke-6 dari tulisan "Rahasia Meraih Sukses Tanpa Henti")

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam,” (QS. 21 : 107).
Jika perbuatan Anda selalu memberikan manfaat bagi orang lain berarti hidup Anda telah sukses. Semakin banyak manfaat yang Anda berikan kepada orang lain berarti semakin sukses Anda.
Sebaliknya, ketika Anda berbuat hanya untuk kepentingan diri sendiri berarti Anda telah gagal dalam hidup. Semakin banyak perbuatan yang Anda lakukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, bahkan orang lain merasa dirugikan atau merasakan keburukan dari perbuatan Anda, maka semakin gagal hidup Anda.
Banyamin Disraeli pernah berkata, “Kita dilahirkan untuk mencintai sesama. Itulah prinsip keberadaan kita di dunia ini dan tujuan satu-satunya." Mencintai sesama dalam arti memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi orang lain, seperti yang dikatakan Denis Diderot, “orang yang paling bahagia adalah mereka yang memberikan kebahagiaan terbesar kepada orang lain.” Atau seperti yang dikatakan Kahlil Gibran, “Anda hanya memberikan sedikit pada saat Anda memberikan apa yang menjadi milik Anda. Pada saat Anda memberikan diri Anda sepenuhnya barulah Anda benar-benar memberi.”
Arti Hidup : Memberikan Manfaat bagi Orang Lain
Pernahkan Anda merenungkan mengapa Anda ada di dunia ini? Pertanyaan ini mungkin membutuhkan jawaban filosofis yang njelimet, tapi singkatnya Anda ada di dunia ini untuk menjalankan misi menolong atau membantu orang lain. Anda ada di dunia ini untuk memberi manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain.
Itulah yang dapat Anda simpulkan dari pemikiran para filsuf dan orang-orang bijak. Juga dari apa yang dapat disimpulkan dari sabda para nabi. Seperti yang dikatakan Albert Schweitzer, “Tujuan hidup seseorang adalah untuk melayani, dan menunjukkan belas kasihan dan keinginan untuk menolong orang lain." Entertainer Danny Thomas pernah berkata, “Kita semua terlahir dengan satu tujuan, tetapi kita semua tidak menemukan apa tujuan itu. Kesuksesan dalam hidup tidak berlaku dengan apa yang Anda dapatkan dalam hidup itu atau yang Anda hasilkan bagi diri Anda sendiri. Kesuksesan adalah apa yang Anda lakukan untuk orang lain."
Sayyid Quthb di akhir hidupnya memberikan wejangan yang berharga untuk kita. Ia berkata, “Kebahagiaan yang sesungguhnya saya rasakan bukan terjadi ketika saya menerima sesuatu dari orang lain, tapi ketika saya memberikan sesuatu kepada orang lain.” Nabi Muhammad dengan tegas menyebutkan apa definisi orang baik, “Yang terbaik diantara kamu adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain."
Jika Anda renungkan tujuan hidup ini, Anda juga akan sampai pada kesimpulan serupa. Anda baru dapat dikatakan hidup dalam arti sebenarnya jika telah memberikan manfaat bagi orang lain. Cobalah Anda buktikan sendiri mana yang paling membahagiakan Anda: ketika Anda menerima atau ketika Anda memberi sesuatu kepada orang lain? Mungkin pada saat pertama, Anda merasa senang dan gembira jika ada orang memberikan sesuatu kepada Anda. Apalagi bila sesuatu itu Anda butuhkan atau Anda anggap tinggi nilainya. Namun kegembiraan itu akan berkurang seiiring dengan berjalannya waktu. Bandingkan dengan ketika Anda memberikan sesuatu kepada orang lain secara rela dan semata-mata ingin menolongnya. Anda akan merasakan ketenteraman dan kebahagiaan dalam waktu yang lama. Anda merasa puas karena telah menjadi orang yang berguna bagi orang lain seperti yang dikatakan Mahatma Gandhi, “Kebahagiaan tergantung pada apa yang Anda berikan, bukan pada apa yang Anda peroleh.” Perasaan inilah yang disebut dengan aktualisasi diri (self actualization). Suatu kebutuhan manusia yang menurut Abraham Maslow berada pada tingkat tertinggi. Kebutuhan untuk menunjukkan pada diri sendiri bahwa “Saya mampu menyumbangkan sesuatu bagi orang lain."
Aktualiasasi Diri : Kebutuhan Tertinggi Manusia
Pada saat kapan Anda merasa sangat sedih? Pasti Anda akan menjawab, “Saya merasa sangat sedih jika orang lain tidak peduli dengan saya. Apalagi jika orang itu adalah orang yang saya cintai”. Seorang alim pernah berkata, “Sakit hati yang paling besar datang dari orang yang paling kita cintai”. Perasaan sedih dan sakit hati muncul ketika Anda merasa tidak diperhatikan orang lain, terutama oleh orang-orang terdekat dan Anda kasihi. Ini adalah perasaan yang wajar karena pada saat itu harga diri Anda merasa terusik. Anda merasa dianggap tidak penting oleh orang lain. Anda merasa tidak berguna bagi orang lain. Eksistensi (keberadaan) Anda menjadi sia-sia di hadapan orang lain. Perasaan inilah yang menimbulkan kesedihan dan sakit hati yang mendalam.

Aktualisasi diri adalah lawan dari perasaan tidak berguna di hadapan orang lain. Aktualisasi diri adalah perasaan bahwa Anda telah berhasil mengembangkan potensi Anda sedemikian rupa sehingga Anda merasa bermanfaat bagi orang lain. Seperti yang pernah dikatakan Victor Hugo, “Kebahagiaan terbesar di dunia ialah merasa yakin kita dicintai orang lain."
Abraham Maslow menyebutkan bahwa kebutuhan manusia bertingkat-tingkat. Dimulai dari kebutuhan fisik, keamanan, sosial, penghargaan dan yang paling tinggi kebutuhan aktualisasi diri. Menurut Maslow, dalam perjalanan hidupnya manusia berusaha untuk mencapai kebutuhan yang tertinggi, yaitu aktualisasi diri. Pada saat kebutuhan ini terpenuhi manusia akan merasakan kepuasan dan kebahagiaan yang terbesar.
Ketika Anda merasa menjadi orang yang berguna bagi orang lain, Anda telah memenuhi kebutuhan aktualisasi diri tersebut. Semakin besar manfaat yang Anda berikan bagi orang lain, maka semakin besar kebutuhan aktualisasi diri Anda yang terpenuhi. Pada saat itu Anda akan merasakan kebahagiaan sesungguhnya. Anda telah menjadi orang yang sukses.
Jadi, sukses sejati terjadi ketika Anda telah berbuat sesuatu yang memberi manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain. Sebaliknya, jika Anda melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi orang lain, bahkan merugikan banyak orang sehingga dianggap ‘musuh masyarakat’ oleh orang lain, berarti Anda gagal memperoleh sukses yang sesungguhnya. Walaupun pada saat itu Anda kaya, tenar atau memiliki jabatan yang tinggi.
Bahaya Mementingkan Diri Sendiri
Sikap yang selalu memberikan manfaat bagi orang lain akan sulit dibangun jika Anda masih berpikir dalam ‘ruang’ kepentingan diri sendiri. ‘Ruang’ ini dibangun oleh hawa nafsu yang mengental dalam diri seseorang. Hawa nafsu selalu mengajak diri untuk mementingkan kesenangan sesaat yang seringkali berwujud materi (sesuatu yang dapat dilihat atau dirasakan). Hawa nafsu tak pernah mampu menangkap hakikat atau hikmah dari suatu peristiwa. Ia terpaku pada pandangan sempit tentang peristiwa sebatas apa yang dapat ditangkap oleh panca indera. Itulah sebabnya ajaran agama atau nilai-nilai filsafat yang luhur selalu mengajarkan kita untuk melepaskan hegemoni hawa nafsu. Hal ini agar kita bisa ‘melihat’ dunia secara lebih jelas dan utuh.
Salah satu ‘pandangan’ yang akan terhalang akibat dominannya hawa nafsu adalah sulitnya seseorang memahami bahwa memberikan manfaat bagi orang lain berarti melepaskan diri dari kepentingan pribadi. Dengan kata lain, menjadi orang yang selalu berpikir dan berbuat untuk kepentingan orang lain. Menjadi orang yang selalu melayani orang lain. Dalam arti membantu, menolong, melindungi dan menghibur orang lain dalam batas-batas yang dibenarkan agama dan norma yang berlaku. Dan hal ini hanya bisa dilakukan jika seseorang berani membuang egonya untuk ‘melebur’ dengan kepentingan orang lain. Inilah yang disebut dengan empati.

Lagi pula mementingkan diri sendiri memiliki berbagai dampak yang berbahaya, antara lain :
1. Memiliki banyak musuh
Orang yang mementingkan diri sendiri biasanya memiliki banyak musuh. Hal ini karena ia tak peduli dengan kepentingan orang lain. Ia malah sering memanfaatkan
orang lain demi kepentingannya sendiri. Disadari atau tidak, ia sering menyakiti orang lain. Sebagian orang yang disakiti itu mungkin akan membalas perbuatanny
yang egois. Namun sayangnya, orang yang egois seringkali tidak menyadari betapa banyak musuh-musuhnya. Ia baru menyadari ketika kesulitan datang kepadanya
dan ternyata tak banyak orang yang mau membantunya.
2. Citra dirinya menjadi buruk
Orang yang egois mempunyai citra buruk di masyarakat. Banyak orang yang tidak mau bergaul dengan mereka yang egois. Perlahan tapi pasti, orang yang egois
akan terkucil dari pergaulan. Temannya hanya itu-itu saja. Padahal salah satu syarat untuk berhasil meraih apa yang diinginkan adalah memiliki pergaulan yang luas.
3. Sering merasa kecewa dan sakit hati terus menerus
Orang yang mementingkan diri sendiri akan selalu gelisah dan sakit hati terus menerus. Hal ini karena ia merasa orang lain tidak memahami kepentingan dirinya. Ia
menuntut agar orang lain memahami dirinya. Padahal ia sendiri tak mau memahami orang lain. Akhirnya, ia sering merasa kecewa ketika berinteraksi dengan orang
lain. Orang lain dipandangnya sering menyakiti hatinya karena kepentingannya tak pernah dituruti. Dan ini makin membuat ia semakin egois karena merasa tak ada
’orang yang baik’ di dunia ini, yaitu orang yang mau memenuhi kepentingannya.
4. Menyesal di masa tua dan rugi di akhirat
Seringkali orang yang egois tidak menyadari keegoisannya. Ia terlalu sibuk mengejar kenikmatan untuk dirinya sendiri, sehingga tak sempat mengevaluasi dirinya.
Setelah nanti badannya semakin lemah, hartanya semakin berkurang, populeritasnya menurun atau jabatannya hilang, ia baru menyadarinya.
Orang-orang yang tadinya mengelilingnya karena mengharapkan harta, popularitas atau jabatanya satu persatu akan pergi menjauhinya. Biasanya hal ini terjadi ketika usianya telah lanjut, sehingga masa tuanya dihabiskan dalam kondisi terkucil. Hanya penyesalan yang akhirnya di dapat. Ia tak sempat lagi beramal untuk orang lain. Ia akan merugi di akhirat kelak karena waktunya habis untuk mementingkan diri sendiri, bukan yang seharusnya ia lakukan yaitu memberikan manfaat bagi orang lain.

Dikirim pada 25 Agustus 2011 di Inspirasi
Profile

friendly, ...yuk semangat,sholihah, cerdas, n ikhlas. Muslimah itu anugerah terindah dunia. ia lembut tp tidak lemah---mpesona tp bersahaja...ia tahu bgmana menjaga izzah dirinya..ia mengerti bgmna mnjaga akhlaq dan kemuliaannya..itulah yg membuatnya istimewa dibanding wnta lainnya. ilmunya telah mengangkatnya menjadi permata terindah di dunia.. wa akherat...tetap semangat More About me

BlogRoll
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 966.311 kali


connect with ABATASA